Bacaan

Rumah Kremasi, Ayu Welirang

Menulis cerita pendek (cerpen) yang konsisten berisikan kejutan di tiap ceritanya adalah usaha yang tak pernah mudah. Penulis mesti memiliki ketahanan untuk mengail pembaca tepat di kalimat pertama dan seterusnya; menghanyutkannya ke dalam plot yang dapat tiba-tiba berkelok, dengan penokohan yang memikat namun tak kurang ganjil.

Dalam bentuk fiksi thriller, detektif, atau horror, pertukangan kepenulisan di atas acap tampil sebagai salah satu formula dari mana sebuah alur cerita tak kehabisan bahan bakar kejutan. Dalam kumpulan cerpen Rumah Kremasi karya Ayu Welirang ini, konotasi ‘kejutan’ itu tak melulu beroleh asosiasi positif dalam terang etika dan moral. Ada hal lain yang lumayan mengagetkan dan serba tak terduga dari kesepuluh cerpennya.

Misalkan cerpen berjudul Dongeng Mbah, yang menyuguhkan untuk kali pertama kepada pembacanya sebuah narasi berlapis. Seolah kita digiring untuk terperangkap pada sang narator, atau malah pada kisah di dalam kisah. Serupa Arabian Nights di tangan Borges yang berubah menjadi serba eksotik dan sublim, teknik multi-narasinya itu selalu berhasil menyeret imaji pembaca untuk menukik menuju lapisan labirin di dalam lubang kelinci.

Kita tak tahu, kaki atau kepala dahulukah yang akan menghentak dasar lubang. Atau jangan-jangan malah tak ada dasar sama sekali. Ibarat Abdullah Harahap dipertemukan Danarto, yang pertama dapat mengecoh kita dengan suatu hal yang kita kira sebagai dasar lubang, dengan disusul oleh perasaan horor. Sedangkan yang kedua mengajak pembacanya untuk larut dalam alur tanpa perlu peduli akan keganjilan yang diidap oleh karakter dan suasana yang meliputinya.

Ayu Welirang meramunya dengan baik dalam Tezcatlipoca. Bila Dongeng Mbah mengandung esoterismenya tersendiri berkat distilasi folklor dan magis, maka Tezcatlipoca hadir dengan caranya yang sureal. Sepereti terdapat tabir tipis penyekat realitas urban yang sudah satu paket lengkap berupa jam pulang kantor-busway-penat, dengan semacam dosis delirium (atau hasish) yang diam-diam ditenggak sang narator, guna mengusir lelah dengan implikasi serius namun tak terduga.

Bentuknya yang sureal kadang dapat menambatkan indera di tempat yang tak terjamah majal realitas. Upaya artistik seperti demikian seolah hendak menyasar objektivitas empirik dengan menyodorkan kegilaan sebagai kritik atas rigiditas spasio-temporal yang semakin mekanis dari hari ke hari. Seperti terdapat dalam Migdal Bavel, Dosa Asali, atau dalam Sebab Televisi Berbingkai Bangkai. Ketiga cerpen tersebut secara implisit menegur konstruksi sosial dengan menyisipkan tragedi, meski dengan suatu percobaan minimalis pencanangan kembali transendensi yang justru sia-sia di tengah gelanggang simulakra.

Dalam terang etika, ekspresi surealisme juga melahirkan bayangan yang tak terlalu jauh dari pembacaan intrinsik semesta eskatologis. Tak heran mengapa Arabian Nights, Labirinnya Borges, dan Godlob Danarto, selalu terkandung di dalamnya quasi-religiusitas. Multi lapis narasi itu dapat dibaca sebagai hierarki makna, yang diikuti oleh sublimasi yang imanen atas eksperimentasi estetik.

Kecuali cermin asap Tezcatlipoca, tak ada waham di Rumah Kremasi. Dorongan atas tindak kegilaan bukan dihasilkan dari subjek skizoid, pun gejala yang mengarah pada skizofrenia seperti halnya Semusim dan Semusim Lagi atau Cala Ibi. Rumah Kremasi justru hadir dengan semacam kesadaran atas setan diabolik Kantian; atas temaramnya dunia Hegelian, atas Id yang mengambil bentuk persona generik. Kejutannya adalah bahwa thanatos dijadikan putusan sadar oleh tiap karakter dalam cerpen ini.

Bila Borges dan Danarto menjadikan bayangan prosanya sebagai referensi tak langsung terhadap transendensi, maka kumpulan cerpen Rumah Kremasi justru menjadikan bayangannya sebagai kegilaan inheren. Sisi gelap yang siap menelan sisa-sisa sulur cahaya –serta ‘terang’ dalam intertekstualitas Aufklarung—untuk kemudian melempar prasangka ke dalam kubangan darah; ke jantung fiksi kriminil yang letaknya kadung bersisian dengan amigdala dalam miskroskop psikopatologi.

Kematian dipilih sebagai finalitas yang diburu secara antusias oleh segenap karakter. Pembaca terpaksa menanggalkan utopia moral akibat tokoh-tokoh yang dengan amat rileks terbiasa membelokkan alur kisah. Tak ada satu senarai pun yang berakhir secara eliptikal, seolah sang penulis tengah menodong pembacanya untuk turut mengamini, setidaknya meyakinkan, bahwa tak ada umat tak bercela dalam pelimbahan akhir berupa tempat sampah di sebuah lokalisasi.

Bukan berarti totem dan tabu tak benar-benar eksis dalam kepala seseorang. Ruang hampa tak pernah melikuidasi seonggok zat lain daripada gempa kosmik yang melahirkan semesta dan hidup di dalamnya; melahirkan kreasi kosmos sedari ether, meteorid, hingga biota kasat mata di dasar palung Mariana. Trauma mensyaratkan agar rasa sakit, baik itu yang terbahasakan maupun yang selalu gagal untuk disimbolkan, untuk direpresi masuk ke dalam gelanggang bawah sadar; menjadi gejala ketika merayap di ambang sadar, yang ledakannya di kemudian membutuhkan dosis valium atau mikrodosis morfin guna meredam getar neuron di sebalik tempurung dan pelipis.

Daya kejut wahana fiksi dalam Rumah Kremasi sesungguhnya dapat ditantang lebih lanjut. Eksplorasi metafor setidaknya perlu menjadi pertimbangan guna menyuguhkan efek sinematik dari kematian yang tengah melawat di hidup temporal setiap karakternya. Penokohan pun dapat lebih menggigit bilamana berhasil menghadirkan apa yang disebut Julia Kristeva sebagai abject, dan bukan subjek, sebagai sentrum psikologis yang piawai menebar horror, perasaan gasal dan keganjilan yang mampu menginterupsi aparatus etik.

Ratapan urban, sebuah usaha agar tetap tertambat pada realitas, dapat dikawinkan dengan kacamata infrarealis mutakhir. Perkara eksistensial itu, setangkup tubuh tak bernyawa, atau dialog antar ruh, mempunyai potensi eksplosif seandainya meneroka ulang unsur dramatik atas motif-motif ganjil dari serangkaian persona delirium dan plot-twist yang membutuhkan tak sedikit tumbal nyawa. Lain daripada itu, Rumah Kremasi telah menyuguhkan pada kita ihwal bayang gelap dari suatu ideal ego yang diartikulasikan sebagai api, dendam, dan kematian.

 

 

Standard

One thought on “Rumah Kremasi, Ayu Welirang

  1. Makasih Ilham! Senang baca ulasannya (dan baru nemu juga waktu lagi ngarsip ulasan).

    Masukannya berarti banget dan bakal menambah segala kekurangan yang masih ada di Rumah Kremasi. Lain waktu, kalau saya ada cerpen baru, jangan lupa ulas lagi ya.

    Salam,

    A. W.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s